Kamis, 07 April 2011

Manfaat Alam Bagi Kehidupan Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Manusia sebagai pengemban alam ditugaskan oleh Allah Swt untuk mengendalikan alam dengan akalnya. Dalam pengalaman sejarah manusia mengalami dua pengalaman hidup yaitu pertama, manusia dikendalikan oleh alam seperti banjir, gempa tanah longsor dan lain sebagainya. Dan yang kedua alam dapat dikendalikan oleh manusia lalu menjadi teman dalam kehidupan insani seperti hujan deras diantisipasi dengan payung, tanah yang gersang dapat ditata menjadi subur, dan lain sebagainya. Terlepas dari itu, dunia ilmiah sangat dekat dengan dunia petualangan alam bebas. Dan tentu saja didunia petualangan tersebut memerlukan kecakapan dan keahlian yang tidak diajarkan dikurikulum fakultas atau universitas. Menjadi seorang speleolog, biolog, geolog atau yang lainnya tak cukup hanya lulus sarjana atau pascasarjana lalu meraih gelar doctor dengan mengandalkan studi pustaka dan penelitian dilaboratorium kampus. Berkutat dilaboratorium hanyalah muara dari serangkaian penelitian. Hulunya adalah dengan penelitian terjun langsung dialam bebas, untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pengkayaan ilmu pengetahuan. Bumi ini masih memiliki kekayaan alam yang belum terdeteksi oleh sebagian orang, karena berada dipedalaman hutan.
Untuk itu tugas para ilmuwanlah untuk menggali rahasia itu. Untuk mengetahui rahasia dan manfaat alam bagi kehidupan manusia dan ilmu pengetahuan, para ilmuwan peneliti tadi mesti menjangkau habitat asli mereka. Meskipun harus menuruni tebing nan curam seperti yang dilakukan Jean Francois Pernette dan Alan Warild untuk bisa mencapai pintu sebuah goa disebuah hutan sub tropis dipulau Madre de Dios (Mother of God) yang mana pada saat itu dipinggang Jean Francois tergantung belasan carabiner yang satu diantaranya terkait pada sebuah tali kernmantle, menuruni tebing yang licin dan berlumut. Itu hanyalah sebagian permulaan dari ekspedisi yang lebih sulit lagi. Para ilmuwan peneliti struktur bebatuan gua itu masih akan mengalami petualangan lebih seru, didalam goa yang punya kedalaman 1200 kaki. Disalah satu gua terdalam dimuka bumi itu, lagi-lagi mereka harus menguras kecakapan Caving (teknik menyusuri gua) dan menuruni dinding dengan teknik rappling. Enam puluh tahun sebelum itu tepatnya tahun 1936, ditanah Papua seorang manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, Dr.A.H.Colijn yang juga seorang petrolog (ahli minyak bumi) dan geolog asal Belanda Dr.J.J Dozy melakukan ekspedisi ilmiah yang juga memerlukan keahlian bertahan dialam itu, naik turun lembah dan sesekali memanjat tebing yang akhirnya menemukan bijih tembaga dikawasan dinding Timur Gletser Morianne. Penemuan itu menjadi cikal bakal industri tembaga dipulau papua. Itu hanya sebagian kecil kisah sorang ilmuwan dalam kehidupan manusia dan mugkin masih banyak lagi. Mereka menyadari, bahwa profesinya kelak perlu didukung oleh kemampuan-kemampuan teknis berpetualang dibelantara alam dan mengunjungi tempat-tempat yang sangat jarang bahkan mungkin belum pernah dikunjungi oleh manusia lain. Sejak dini mereka sadar bahwa jika ingin menjadi ilmuwan peneliti kelak mereka harus memanjat dan menuruni tebing, mendaki gunung, berkawan dengan belantara berlayar disungai-sungai pedalaman sampai menyelam kedasar lautan. Sayangnya semua keahlian itu tak didapatkan dikurikulum fakultas atau universitas. Seperti menguasai teknik Rock Climbing, Rappling, Caving, Scuba Diving, Hiking dan Junggle Surviving (bertahan hidup dialam bebas) dengan bebagai tingkat kesulitan, maka mengikuti pelatihan dan aktif dalam organisasi kepencintaalaman jadi sebuah pilihan alternative

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar